7 Hari yang Dilarang untuk Mengganti Puasa Ramadan
Mengganti puasa Ramadan adalah kewajiban bagi Mama yang berhalangan saat bulan suci, seperti karena haid, sakit, hamil, atau menyusui. Namun, pelaksanaannya tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena ada ketentuan syariat yang perlu diperhatikan.
Dalam Islam, terdapat beberapa hari yang dilarang untuk berpuasa, termasuk puasa qadha Ramadan. Jika dilakukan pada waktu yang tidak tepat, puasa bisa menjadi tidak sah atau kehilangan keutamaannya. Agar ibadah tetap sesuai tutunan, Mama perlu mengetahui hari-hari yang tidak diperbolehkan untuk mengganti puasa Ramadan. Berikut penjelasannya:
1. Hari Tasyrik
Hari Tasyrik jatuh pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, yaitu tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha. Pada hari-hari ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak makan, minum, dan berdzikir sebagai bentuk syukur.
Dari Aisyah dan Abdullah bin Umar, berkata: “Tidak diberi kemudahan di hari-hari tasyrik untuk berpuasa kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan hadi (hewan kurban di waktu haji).” (HR Bukhari).
Selain itu, Hari Tasyrik juga disebut sebagai hari untuk makan dan minum. Rasulullah SAW pernah bersabda:
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ يَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Artinya: “Dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari Tasyrik adalah hari raya kita pemeluk agama Islam, serta merupakan hari-hari untuk makan dan minum.’ (HR. An-Nasa’i, no. 2954).
2. Hari Raya Idul Fitri
Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada 1 Syawal merupakan hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Pada hari ini, umat Islam justru diharamkan untuk berpuasa, termasuk puasa pengganti Ramadan.
Larangan ini bertujuan agar umat Islam menikmati kebahagiaan, bersilaturahmi, serta mensyukuri nikmat yang telah Allah SWT berikan.
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ النَّحْرِ
“Rasulullah melarang puasa pada hari Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Muslim no. 1137).
Bahkan sebelum salat Id, kita dianjurkan buat makan dulu sebagai tanda berbuka. Rasulullah sendiri makan beberapa butir kurma sebelum berangkat salat Id.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ
“Rasulullah tidak keluar untuk salat Idul Fitri sebelum makan beberapa butir kurma.” (HR. Bukhari no. 953).
3. Hari Raya Idul Adha
Selain Idul Fitri, 10 Dzulhijjah atau Hari Raya Idul Adha juga termasuk hari yang diharamkan untuk berpuasa. Hari ini identik dengan ibadah kurban dan perayaan besar umat Islam.
Puasa qadha Ramadan tidak sah jika dilakukan pada hari Idul Adha karena bertentangan dengan anjuran syariat untuk makan dan berbagi kebahagiaan.
4. Hari Jumat Secara Khusus
Hari Jumat memang istimewa, tetapi mempuasakan hari Jumat saja secara khusus tanpa disertai hari sebelum atau sesudahnya tidak dianjurkan, termasuk untuk puasa qadha Ramadan.
Menurut sebagian ulama, puasa hari Jumat dimakruhkan karena hari tersebut dianggap sebagai hari raya. Kemakruhan puasa di hari Jumat ini berlaku bila sebelum atau sesudahnya tidak puasa. Pendapat ini merujuk pada hadits riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW berkata:
لا يصومن أحدكم يوم الجمعة إلا أن يصوم قبله أو بعده
Artinya, “Janganlah kalian puasa hari Jumat melainkan puasa sebelum atau sesudahnya,” (HR Al-Bukhari).
5. Hari Syak (Hari yang Diragukan)
Hari Syak adalah hari yang meragukan, yaitu tanggal 30 Sya’ban ketika belum dipastikan apakah Ramadan sudah dimulai. Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa pada hari yang diragukan (hari Syak), maka ia telah bermaksiat kepada Abul Qasim (Rasulullah SAW).” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i).
Dari hadist ini, ulama sepakat bahwa hukum puasa akhir Sya’ban pada hari Syak adalah haram, kecuali bagi mereka yang sudah memiliki kebiasaan puasa sunnah. Larangan ini bertujuan untuk menghindari kebingungan dalam menentukan awal Ramadan.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang telah terbiasa berpuasa, maka ia boleh berpuasa pada hari itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
6. Hari yang Dilarang bagi Istri Berpuasa saat Suami Ada di Rumah, kecuali dengan Izin
Seorang istri tidak diperbolehkan berpuasa sunnah atau qadha Ramadan ketika suami berada di rumah tanpa izin suami. Hal ini berkaitan dengan hak suami dalam kehidupan rumah tangga.
Namun jika suami memberikan izin atau puasa tersebut merupakan kewajiban yang waktunya sempit, maka puasa tetap diperbolehkan.
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
لاَ تَصُمِ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
Artinya: “Tidak dibolehkan seorang istri berpuasa di saat suaminya di rumah, kecuali dengan izinnya.”
7. Hari Arafah
Hari Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah dan dianjurkan untuk berpuasa bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Namun, para ulama memiliki perbedaan pendapat terkait hukum mengganti puasa Ramadhan pada hari ini.
Bagi jamaah haji yang sedang melaksanakan wukuf di Arafah, puasa pada hari tersebut dihukumi makruh. Mereka dianjurkan menjaga kondisi fisik agar dapat menjalani seluruh rangkaian ibadah haji dengan baik.
Rasulullah SAW juga diriwayatkan tidak berpuasa pada Hari Arafah saat berhaji. Dalam sebuah sejarah, dia menyalakan susu ketika berada di Arafah dan meminumnya di hadapan para sahabatnya.
Sebagian ulama memakruhkan puasa qadha Ramadan di Hari Arafah karena keutamaannya lebih dikhususkan untuk puasa sunnah. Oleh karena itu, Mama disarankan mengganti puasa Ramadan di hari lain agar tidak kehilangan keutamaan puasa Arafah.
Nah, itulah penjelasan mengenai 7 hari yang dilarang untuk mengganti puasa Ramadan yang perlu Mama ketahui. Semoga informasi ini membantu Mama menjalankan ibadah dengan lebih yakin dan penuh keberkahan.
