47 Jiwa di Balik Ompreng MBG, Andi Irfan Pionir Keselamatan Pekerja Dapur SPPG Bulungan

Posted on

Pengabdian di Balik Dapur MBG

Denting ompreng beradu menembus tembok putih rumah yang tegak di atas lahan 500 meter persegi. Sesekali, dentuman besi beradu menelan suara empat perempuan paruh baya yang tekun menyabuni wadah makan. Riuh kerja mereka begitu pekat, hingga lantunan merdu penyanyi Charly van Houten dari speaker di halaman, hanya tersisa samar.

Suasana ini menjadi ritme harian yang menyelimuti sore di sebuah rumah di Jl. Mangga, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara). Sejak enam bulan terakhir, kantor Yayasan Amanah Aksi Insani (YAAI) itu berubah menjadi dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) untuk melayani program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bulungan.

Di tempat ini pula, 47 orang menautkan harapan dan tenaga. Bukan sekadar pekerja, melainkan pengabdi yang menyalakan denyut program prioritas nasional gagasan Presiden Prabowo Subianto.

Empat perempuan paruh baya tadi masih dengan celemek lengkap di badan. Mereka tak henti bertekun memastikan setiap ompreng yang dipakai 3.000 orang per hari kembali bersih tanpa noda dan aroma sisa makanan. Sekilas, pekerjaan ini tampak biasa, layaknya rutinitas di dapur rumah. Namun di balik itu, tertanggung beban berat, menjaga wadah makanan tetap steril demi kesehatan ribuan nyawa.

Butuh proses panjang, melelahkan, dan penuh risiko pekerjaan. Air panas yang dipanaskan lewat tabung bright gas, digunakan untuk menyapu sisa makanan. Wadah-wadah itu dikeringkan, lalu dimasukkan ke dalam Disinfectant Cabinet setinggi satu meter. Di sana, panas seratus derajat celcius membakar habis bakteri, menghasilkan wadah yang siap kembali dipakai. Semua dilakukan dengan teliti, demi pengabdian dan titipan masa depan anak-anak negeri.

Keselamatan diri pun tak kalah penting. Sarung tangan selalu disiapkan untuk mengangkat wadah dari lemari panas. Lantai basah membuat mereka ekstra hati-hati melangkah, sebab celaka bisa menghampiri siapa saja yang lengah. “Pernah kejadian, satu karyawan kita terpeleset, kemudian nggak bisa berdiri dan harus ditangani di rumah sakit,” tutur Andi Irfan, penanggung jawab dapur SPPG YAAI, mengingatkan betapa beratnya pengabdian ini, Kamis (27/11/2025).

Pria yang juga pengusaha catering ini tahu betul beban kerja di dapur MBG. Berbeda dari catering yang hanya bergerak sesuai pesanan, dapur MBG justru harus melayani jumlah tetap setiap hari. Tekanan bukan pada banyaknya order, melainkan pada waktu yang tak bisa ditawar. “Efek dominonya, kalau satu terlambat, maka terlambat semua pekerjaan kita,” ungkap Andi Irfan.

Jam kerja karyawan di dapur MBG jauh dari kata umum. Di divisi persiapan, para pekerja mulai beraktivitas sejak pukul 16.00 hingga 01.00 Wita, menyiapkan seluruh bahan makanan sebelum dimasak. Begitu mereka selesai, estafet beralih ke divisi pengolahan yang bekerja dari pukul 01.00 hingga 09.00 Wita. “Mereka bekerja dengan jam kerja yang memang tidak umum. Ada yang masuk tengah malam, ada yang pulang dini hari. Tentu kelelahan kerja dan mengantuk bisa mengancam mereka,” ujar pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, tahun 1951 ini.

Namun beban itu bukan hanya soal jam kerja. Ada tuntutan berat lainnya, menjaga higienisasi makanan pada tingkat tertinggi. “Tuntutan tinggi menjaga higienisasi makanan, karena yang mengonsumsi MBG anak sekolah, bukan orang dewasa yang metabolismenya lebih kuat,” imbuhnya.

Ancaman tak berhenti di dapur. Perjalanan menuju tempat kerja pun penuh risiko. Banyak karyawan harus menempuh waktu 30 menit hingga satu jam dari rumah ke dapur SPPG. Ada yang dari SP8 Desa Tanjung Buka dan Desa Apung, jaraknya jauh dari Tanjung Selor, kondisi jalannya tidak selalu mulus aspal, bahkan ada yang harus menyeberangi sungai. “Tentu itu risikonya besar di jalan. Banyak yang berangkat hanya untuk bekerja, niat mereka tulus,” ungkap penanggung jawab dapur SPPG yang melayani 21 sekolah di Kelurahan Tanjung Selor Hilir.

Menyadari betapa berat risiko pekerjaan yang menimpa anak buahnya, pada 6 November silam, Andi Irfan bergegas mendaftarkan seluruh karyawan dalam kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Langkah sederhana ini penuh makna, menjadikan SPPG YAAI milik Andi Irfan sebagai dapur pertama yang terdaftar BPJS Ketenagakerjaan untuk wilayah Kabupaten Bulungan. Keputusan yang bukan hanya melindungi 47 jiwa, melainkan sikap tegas pengabdian untuk negeri harus berjalan seiring dengan perlindungan pekerja di garis depan.

Melalui kepesertaan itu, setiap pekerja dapur SPPG YAAI akan dilindungi BPJS Ketenagakerjaan. Jaminan kecelakaan kerja hingga jaminan kematian menjadi payung menenangkan, di tengah rutinitas melelahkan dan risiko yang mengintai. Bagi Andi Irfan, langkah ini bukan sekadar formalitas. Ia ingin memastikan 47 jiwa yang setiap hari berjibaku di balik dapur MBG miliknya, juga memiliki pegangan andai musibah datang.

“Alhamdulillah pekerja yang operasi di rumah sakit itu, semua diurus sampai selesai. Itu yang bikin tenang juga dari sisi perusahaan. Tidak ada lagi biaya lebih yang kita keluarkan. Semuanya sudah di-cover sama BPJS Ketenagakerjaan,” ungkap Andi Irfan.

Baginya, pengurusan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan cukup mudah. Meski tanpa bantuan pemerintah daerah, proses yang ditempuhnya tak membutuhkan waktu lama, tanpa lika-liku administrasi.

“Memang tidak ada bantuan apapun dari pemerintah daerah, ini murni dari pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Bulungan. Mulai dari sosialisasi dan bantu kami mengurai angka-angkanya sampai dengan jumlah total. Artinya pelayanan BPJS Ketenagakerjaan sudah luar biasa,” jelasnya.

Berkat kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, Andi Irfan merasakan banyak manfaat yang nyata. Ia tak lagi dihantui kekhawatiran akan risiko yang bisa datang kapan saja. “Namanya kecelakaan kerja itu tidak ada direncanakan, tanggal apes itu juga tidak ada di kalender. Sekarang pekerjaan kami menjadi lebih tenang. Saya sudah berikan juga informasi ke karyawan bahwa bekerja di sini itu silakan totalitas. Karena kami juga totalitas sama karyawan untuk memberikan apa yang menjadi hak-haknya, termasuk perlindungan kerja seperti ini,” ujarnya.

Andi Irfan menilai perlindungan itu bukan hanya soal administrasi, melainkan bentuk komitmen. Ia ingin para pekerja merasa aman, sebab pengabdian mereka di dapur MBG tak berjalan sendirian. “Karyawan senang, jadi saya juga ikut tenang. Mereka merasa bahwa, iya kami ini bukan sekadar kerja, tapi juga ada perhatian dari owner, dari pimpinan, bahwa kita dipedulikan,” ucap mantan Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini.