3 Berita Populer Sumbar: Pengungsi Banjir Bandang Agam Was-Was, Masa Tanggap Darurat Diperpanjang

Posted on

PasarModern.comBerikut 3 berita Populer Sumbar yang telah tayang selama 24 jam terakhir di Tribun Padang.

Ada berita tentang Warga Agam Digegerkan Penemuan Mayat di Dasar Ngarai Taratak Koto Baru Agam.

Kemudian berita Pengungsi Banjir Bandang Agam Was-Was, Takut Stok Beras Habis dan Air Bersih Susah Didapat.

Selanjutnya berita Pemkab Agam Perpanjang Masa Tanggap Darurat hingga 22 Desember, Tim Fokus Evakuasi Korban.

Baca berita selengkapnya :

1.Warga Jorong Jambu Aia, Nagari Taluak IV Suku, Kabupaten Agam, Sumatera Barat digegerkan dengan penemuan mayat di dasar Ngarai Taratak, Senin (8/12/2025).

Pernyataan itu disampaikan oleh Kapolresta Bukittinggi melalui Kasi Humas, Iptu Gunawan membenarkan terkait penemuan mayat tersebut.

“Benar, penemuannya sore tadi, sekira pukul 15:30 WIB di dasar Ngarai Taratak, Koto Baru,” ujarnya, Senin (8/12/2025) malam.

Ia menjelaskan mayat tersebut berjenis kelamin laki-laki dengan inisial YMH, dan identitasnya dibenarkan oleh istri korban.

Kata Iptu Gunawan, berdasarkan keterangan istri korban bahwa almarhum suaminya keluar atau hilang dari rumah pada hari Senin tanggal 08 Desember 2025.

“Korban kata istrinya sempat hilang dari rumah sekira pukul 01:30 WIB. Kemudian dilakukan pencarian oleh masyarakat,” sebutnya.

Setelah dilakukan pencarian, akhirnya korban ditemukan di TKP dasar Ngarai Taratak Koto Baru, Jalan Kayu Gadih, Jorong Jmbu Air, Nagari IV Suku, Kabupaten Agam.

“Korban ditemukan sekira pukul 17:30 WIB hari Senin tanggal 08 Desember 2025. Korban baru bisa dievakuasi dan dibawa kerumah duka untuk dikebumikan,” jelasnya.

Namun kata Iptu Gunawan, jasad korban tidak dilakukan proses otopsi lantaran pihak keluarga sudah menerimanya.

“Pihak keluarga menerima atas meninggalnya korban dan tidak dilakukannya otopsi, dan bersedia membuat surat pernyataan,” pungkasnya.

“Selanjutnya korban akan segera dimakamkan,” tambahnya.

2.Sudah hampir dua pekan sejak banjir bandang menyapu lima unit rumah dan berdampak pada puluhan lainnya di Kampung Tanjung, Salareh Aie Timur, Agam, Sumbar kecemasan warga akan air bersih dan beras semakin terasa, Senin (8/12/2025),

Posko Kampung Tanjung yang berdiri di Mushola Tuanku Ibadat, sudah dipenuhi pengungsi sejak hari pertama banjir bandang melanda daerah tersebut.

Posisi posko memang agak tinggi, namun tidak terlalu jauh dari aliran air dan rumah yang terdampak banjir bandang, hanya saja warga lebih memilih untuk mengungsi di sana.

Di posko ini kebutuhan warga setiap harinya disangga, melalui dapur umum yang dimasak secara bergantian oleh warga dan terkadang relawan.

Bantuan logistic sampai saat ini masih banyak, bahkan jumlahnya bisa bertahan hingga beberapa hari ke depan.

Begitu pula pakaian, selalu saja ada para donatur yang datang membawakan berkarung pakaian untuk dipilih dan digunakan oleh warga setempat. 

Mulai dari pakaian anak, orang dewasa semuanya ada, jumlahnya menggunung tinggal dipilih oleh warga untuk dibawa pulang.

Namun, kondisi dapur umum yang hampir dua pekan menjadi penyangga makanan dan pakaian masyarakat ini, lama-kelamaan membawa kersehan bagi masyarakat.

Diantaranya, Husri (68) yang sudah kehilang beberapa petak sawahnya akibat banjir bandang, sawah yang sejak menikah ia garap untuk memenuhi kebutuhan dapur dan membesarkan anaknya.

Sawah itu, sudah rata dengan lumpur tanah, bahkan ada bagian yang sudah jadi perlintasan Sungai, tidak bisa digarap lagi.

“Kalau di sini hampir semua masyarakat mata pencariannya Bertani, tapi sawah itu sudah tidak ada, sama apa kami makan nanti,” ujarnya, mengingat bantuan tidak akan bertahan lama, sedangkan ia akan tetap tinggal di sana. 

Menurut husri jika tidak ada sawah yang akan digarap, tidak aka nada pula uang masuk, bagaimana roda ekonomi masyarakat akan bergerak.

Ia cemas jika nanti, tidak ada beras untuknya dan keluarga makan, saat semua bantuan sudah habis, dari mana ia bisa mendapatkannya.

“Dulu dari sawah saya ambil, sisanya saya jual uangnya untuk keperluan sehari-hari. Sekarang tidak tahu saya. Beras saja mungkin tidak punya,” ujar petani yang sudah berusia lanjut itu.

Husri tidak sendiri, kecemasan ini juga dibenarkan oleh warga lainnya yang juga menggantungkan hidup sebagai petani dan sekarang sawahnya sudah lenyap dilahap lumpur dan aliran Sungai yang buas akhir Noember 2025.

Selain beras kecemasn lain juga disampaikan oleh Irmayenti, ia mencemaskan akan sumber air yang dulunya ditopang oleh aliran Sungai. 

Aliran Sungai itu dulunya sangat ramah bisa digunakan untuk mencuci pakaian hingga mandi cuci kakus dengan memasangi slang air.

Namun kini aliran Sungai itu sudah berubah, bahkan kedalamannya bertambahlebih sulit untuk diambil oleh warga.

“Itu sumber air utama kami, kalau seperti ini tidak mungkin kami menunggu bantuan air bersih seperti sekarang. Sudah dibantu saja air bersih masih belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

3.Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, memperpanjang masa tanggap darurat yang sudah ditetapkan daerah tersebut, hingga 22 Desember 2025.

Perpanjangan masa tanggap darurat ini sejalan dengan  keputusan yang ditandatangani oleh Bupati Agam Benni Warlis, pada Senin (8/12/2025).

Surat menyebutkan masa tanggap darurat ditetapkan mulai 23 November hingga 22 Desember 2025.

Sekda Agam, Mhd Luthfi, mengatakan perpanjangan ini dilakukan supaya tim bisa lebih fokus dalam mengevakuasi korban dan mencari korban yang masih belum ditemukan.

“Kita juga sudah minta perpanjangan kegiatan pencarian selama 14 hari, nanti setelahnya akan kembali kami evaluasi. Apakah akan diperpanjang lagi,” ujarnya, ditemui, Senin (8/12/2025).

Selain fokus pada korban meninggal dan hilang, Luthfi mengaku pihaknya juga akan meningkatkan peningkatan pelayanan pada korban yang berada di posko pengungsian.

Saat ini proses pembersihan jalan, dan rumah warga terdampak terus dilakukan pihaknya, dengan menurunkan sebanyak 32 unit alat berat.

Alat berat ini tersebar 12 unit di Salareh Aie, tujuh unit di Malalak dan sisianya di sejumlah titik bencana yang tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Agam.

Selain jalan, fasilitas umum yang menjadi perhatianya saat ini merupakan perbaikan terhadap 23 jembatan rusak terdampak bencana yang terjadi sejak akhir November 2025.

Serta percepatan perbaikan 93 sekolah yang terdampak, hingga membuat proses belajar mengajar harus dihentikan hingga 22 Desember 2025.

93 sekolah terdampak, terdiri atas 22 TK/PAUD, 60 SD, dan 15 SMP. Seluruhnya tersebar di Kecamatan Palembayan, Tanjung Raya, Matur, Ampek Koto, Ampek Nagari, Tanjung Mutiara, Palupuh, dan Tilatang Kamang.

Bahkan pemerintah saat ini sudah menyiapkan hunian sementara untuk para korban yang terdampak langsung dan tidak lagi memiliki tempat inggal akibat bencana ini.

Persiapan Huntara ini sudah berlangsumg mulai dari tingkat pendataan hingga pencarian dan pemilihan lahan, namun, jumlahnya be;um bisa dipastikan.

pembangunan Huntara ini, kami fokuskan di lokasi tempat tinggal warga, seperti Salareh Aie, Malalak dan Maninjau,” ujarnya.

Luthfi berharap penanganan bencana yang terjadi di 18 kecamatan di Agam ini bisa berjalan dengan baik, sehingga kehidupan masyarakat bisa lekas berjalan normal.