Cerpen Cinta yang Romantis dan Bikin Baper
Bela, apakah kamu salah satu orang yang gemar membaca cerpen atau cerita pendek tentang percintaan? Ya, adanya cerita pendek memang bertujuan untuk menghibur dan memberi pesan moral di dalamnya, seperti cerpen yang bertema tentang cinta. Dengan membacanya pun, kita seolah ikut terhanyut karena kisah sepasang kekasih yang telah digambarkan dalam cerita. Sebab, kisah percintaan rasanya begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan, mungkin kamu pernah membaca cerpen yang serupa dengan hubungan asmaramu dengan si dia. Apakah kamu sekarang sedang mencari judul cerpen romantis dengan banyak kisah cinta yang unik?
Berikut ini, Popbela akan memberimu beberapa kumpulan cerpen cinta yang romantis dan bikin baper yang bisa kamu baca untuk mengisi keseharian. Yuk, simak cerita pendek di bawah ini!
1. Cerpen Cinta Sedih: Bangku Sisi Jendela
Tampak sosok lelaki bertubuh agak gelap duduk menghadap ke arah jendela. Sesekali mengaduk sendok pada jusnya. Sesekali pun mengecek handphone untuk menantikan kabar. Posisi yang benar-benar menunggu.
“Ale…!!”
Terdengar suara perempuan dari arah pintu masuk cafe. Yang dipanggil pun menengok dan melambaikan tangan dengan girang. Sang perempuan, Mala namanya, segera menuju Ale. Aroma lavender tercium oleh Ale dari tubuh Mala. Perempuan cantik nan anggun itu entah mengapa telah menjatuhkan hati kepada Ale—lelaki kosan sederhana.
Menjadi mahasiswa baru di ibukota, membuat mereka saling jatuh cinta. Pertemuan pertama mereka adalah gerbang menuju kehidupan Ale dan Mala yang baru. Dan aku, selalu sendiri melihat mereka di pojok dunia yang tak tampak. Memandang dengan iba apa yang telah terjadi pada Ale selepas kecelakaan itu.
“Mal, ada yang mau aku omongin,”
Ale bersua menatap Mala yang masih memesan makanan.
“Hmm,”
Mala bergumam lalu menutup buku pesanan dan menatap Ale.
“Kamu nggak bakal ngomongin putus kan?”
Ale menatap lekat pancaran nanar mata Mala. Pikiran negatifnya justru hal tersebut akan terjadi, meski Ale pun tak mau itu terjadi. Sesungguhnya ia hanya ingin menyampaikan kebenaran, walau justru hal itu sangatlah menyakitkan.
“Aku tak bisa melupakan Jinan. Ia amat melekat di aku, di hatiku. Apakah lebih baik…”
“Stop! Aku tahu maksud kamu apa. Jinan sudah tenang dan itu bukan salah kamu, bukan, Le.”
Aku tersenyum mendengar ucapan Mala. Benar, kecelakaan yang kami alami berdua bukanlah salahnya, bukan salah siapa-siapa. Tapi, Ale selalu berpikir itu salahnya dan ia tak bisa melupakanku, walaupun ia sudah berusaha mencobanya dengan Mala.
“Aku tahu maksud kamu apa. Jinan sudah tenang dan itu bukan salah kamu, bukan, Le.”
Aku tersenyum mendengar ucapan Mala. Benar, kecelakaan yang kami alami berdua bukanlah salahnya, bukan salah siapa-siapa. Tapi, Ale selalu berpikir itu salahnya dan ia tak bisa melupakanku, walaupun ia sudah berusaha mencobanya dengan Mala.
2. Cerpen Cinta Galau: Melangitkan Namamu
Aku adalah sang pengagum andal di balik layar, memandangimu dari tempat yang tak kau lihat. Percayalah, bahwa aku diam-diam telah melangitkan namamu dalam setiap doa. Tak berubah, selalu sama, berharap agar dirimu bahagia di sana.
Tidak semua hal mesti disampaikan; mencintaimu, misalnya. Jangan tanya kenapa, mungkin aku hanya belum siap menerima kenyataan bahwa hatimu sudah ada yang menggenggan, belum siap untuk terluka. Sebab terkadang, memendam terasa mendamaikan. Aku hanya perlu mengingat untaian rasa ini didalam doa, dan lagi-lagi, aku hanya bisa melangitkan namamu yang kutitip pada semesta dalam bentuk semoga.
Dengan begitu aku tidak perlu cemas jika harus meyakinkan penduduk semesta, tentang mengapa aku lebih memilih bercengkrama dalam diam. Karena jujur saja, aku lebih suka membungkus sebuah ingin, dalam setulus-tulusnya.
Aku, hanya ingin semuanya baik-baik saja, atau setidaknya untukku tampak baik-baik saja, meski mungkin nanti jalan cerita kita ternyata berbeda. Jika dipikir-pikir lucu, ya. Aku seperti lilin ulang tahun bagimu. Aku datang, kamu menutup mata. Aku padam, kamu bahagia. Mirisnya, mereka bertepuk tangan seakan merayakan.
Kamu akan terasa jauh meski jarak kita begitu dekat, karena aku telah mengubur rasa ini dalam diam yang teramat sangat. Sendirian, lamat-lamat. Aku tahu. Aku menyadari itu. Namun diri ini tak bisa pergi, aku ingin menyudahi, tetapi Langkah ini hanya menuntunku kembali ke awal lagi. Tragisnya, aku suka mengulanginya lagi dan lagi. Maaf.
3. Cerpen Cinta Remaja: Obituarium Hujan
Hujan selalu menawarkan perasaan yang entah mengapa selalu sulit untuk dijelaskan. Perasaan kesal karena tidak punya payung, perjalanan yang harus terhenti, atau jalanan yang becek mungkin membuat kejengkelan semakin berlipat ganda. Tetapi kala itu, kejengkelan dan kebahagian selalu membias menawarkan kebahagiaan yang Tama rasakan.
Apabila tidak terjadi hujan di bulan Maret itu, mungkin Tama tidak akan sebahagia sekarang. Ia tidak memperkirakan bahwa walaupun sudah memasuki bulan Maret, terkadang hujan masih selalu hadir sebagai musim pancaroba. Kala itu ia terpaksa harus masuk terlambat karena hujan. Sampai suatu ketika, ada sosok perempuan berjilbab menyapanya.
“Kak Tama!”
“Oh iya, Qias”
“Kakak mau ke kampus, mau bareng nggak, Kak?”
Tawaran Qias sempat membuat Tama terpana, akhirnya ada orang yang mau menolongnya. Tama pun segera mengiyakan tawaran tersebut. Qias merupakan adik tingkat Tama hanya berbeda fakultas. Qias yang anak seni dan bahasa mungkin cukup santai apabila berpayung berdua dengan lelaki, tetapi Tama merasakan sedikit canggung. Ia berusaha semaksimal mungkin menghilangkan kecanggungannya.
Tak disangka keceriaan Qias dan keramahtamahannya saat berbicara seolah menyihir pandangan Tama. Ia menjadi tahu bagaimana seluk beluk tentang Qias, cita-citanya, dan obrolan-obrolan ringan lainnya sambil berpayung di kala hujan. Bola mata Qias yang kecoklatan seolah berbias menjadi warna emas ketika ia mengisahkan cerita hidupnya. Sebelumnya, ia hanya memandang Qias sebagai adik tingkat yang mungkin tidak pernah membuat hatinya berdebar.
Tak terasa hujan sudah mulai reda dan mereka sudah sampai di gerbang kampus Qias. Mereka pun berpisah menuju fakultas masing-masing, namun semesta tak pernah membuat mereka berpisah sejak saat itu. Qias tetap menjadi pencerita dan Tama menjadi pendengar setia.
4. Cerpen Cinta Sekolah: Cinta Tak Bisa Ditebak
Aku siswa baru kelas X SMA. Semua temanku memanggil aku Tari. Meskipun aku baru, namun di hari pertama aku sekolah, aku telah menemukan teman yang sekarang menjadi sahabat baikku, yaitu Lili dan Fani. Mereka selalu mengajariku banyak hal dan selalu mau berbagi cerita denganku.
Siang itu, saat jam istirahat tiba, aku mendapatkan tugas dari guru untuk mencari novel kemudian aku harus menulis resensinya. Aku mengajak Lili ke perpustakaan untuk mencari novel.
Ketika aku sedang berjalan menyusuri rak demi rak, aku melihat seorang pria yang sedang membaca buku di bagian kiri sebelah rak dengan raut wajah yang serius. Entah apa yang terjadi, jantungku seakan ingin berhenti ketika aku melihatnya, sosok wajahya yang tampan dan kalem, membuatku kagum padanya.
Setelah aku perhatikan, aku bisa membaca name tag-nya, ternyata ia bernama Faid. Ia adalah murid satu angkatan dengan ku. Seketika itu aku menceritakan apa yang ku alami kepada Lili, Lili pun menanggapi cerita ku dengan antusias.
Hingga aku memperoleh informasi bahwa, Faid mengikuti olimpiade. Seketika itu, aku langsung belajar dengan giat, agar aku bisa mengikuti olimpiade yang sama dengan Faid. Akhirnya aku pun lolos seleksi olimpiade, dan aku selalu belajar bersama sebelum olimpiade dengan Faid.
Namun, di pertengahan ketika waktu olimpiade telah dekat, aku baru tahu bahwa Faid telah menjalin hubungan dengan adik kelas. Perasaanku pun menjadi hancur kala itu. Dan akhirnya aku pun berusaha menjauhi Faid.
Waktu pun berganti, setelah aku belajar 3 tahun lamanya, aku sekarang tengah mengikuti acara lepas pisah kelas XII, tanpa mengetahui kabar Faid, aku tetap tidak bisa melupakannya. Aku juga tidak berusaha mencarinya. Aku sendiri termenung melamun di gazebo.
“Tari, aku sudah mencarimu ke mana-mana, ternyata kamu ada di sini,”
ucap Faid, membuyarkan lamunanku. Aku agak sedikit gugup sebenarnya jika harus bertemu secara langsung dengannya.
“eh… iya,”
jawabku
“Tari, aku tahu kamu mau pergi, aku tahu kamu dapat beasiswa. Aku ingin mengatakan hal yang sangat penting padamu. Kumohon dengarkan aku. Apakah kamu bersedia untuk menungguku hingga nanti aku menikahimu,”
ucap Faid.
Seakan tubuhku lemas tak percaya, dengan cepat kubalas,
“Iya”.
Aku tidak menduga, perasaan yang selalu kusimpan selama 3 tahun, ternyata mendapat balasan yang sangat indah.
5. Cerpen Cinta Romantis: Plester Cinta
Bola basket sedang mantul ke sana-ke mari ikuti arahan tangan remaja yang sedang asik berebut dan berlari. Sorak-sorai gembira serta histeris terdengar dari bangku penonton.
Walaupun hari ini merupakan pertandingan basket remaja putri tetap aja tak kalah seru saat remaja putra yang main. Semua itu karena memang mereka sudah cukup jago dan mampu buat siapa pun terpesona.
Seorang cewek dengan rambut panjang terikat sedang berusaha membawa bola menuju ring lawan, tapi ada hadangan yang terus terjadi. Sehingga akhirnya bola pun mampu masuk ring dengan membuat wanita bertubuh jangkung itu jatuh tersungkur karena melawan arus dari lawan itu.
“Priiiitt,”
suara wasit meniupkan peluit akhirnya menggema.
“Medis medis! Tania luka tolong,”
ujar wasit.
Seorang pria dengan tubuh mungil datang berlari dengan membawa kotak berisi P3K. Pertandingan pun mau tak mau akhirnya dijeda terlebih dulu. Tania sudah dibawa ke pinggir lapangan sehingga pertandingan mulai berjalan lagi.
“Aku nggak kenapa-napa kok Do,”
ucap Tania kepada Rido yang sedang mengobati lukanya.
“Iya aku tahu, hati-hati kan bisa dong, Tan. Kamu tuh cewek masak banyak lecet di mana-mana begini.”
Tania cemberut.
“Terus kalau aku penuh luka, kamu bakal nggak suka sama aku lagi gitu?”
ucap Tania.
Rido lalu menempelkan plester pada dagu serta lutut Tania, setelah itu Rido mengacak-acak rambut Tania.
“Tenang Tan, aku bakal jadi plester kamu,”
ucap Rido.
“Kalau udah kelar diobatin bisa kalian pacarannya nanti dulu aja, pertandingan penting ini,”
kata seorang pemain yang berada sedikit ke pinggir lapangan.
Tania pun berlari dan mendekati wasit yang menandakan dirinya sudah siap kembali bertanding. Rido dan Tania sangat jelas berbeda, bahkan banyak yang meledek pasangan ini. Bagaimana tidak, mereka ternyata mempunyai tinggi badan yang outlier, dan yang lebih pendek di sini adalah Rido.
Tetapi Rido sudah bertekad, bahkan saat ia memutuskan untuk mengikuti ekskul PMR itu semua untuk Tania, supaya Rido bisa selalu mendukungnya.
